Opini

Tambang Indonesia Menuju 90% Milik Asing, Mental Industri Negeri Punah!

Tambang
Sumber: Asiatoday.id. Edited by Fahrizal Dicktian Rifaldy

OPINI – Indonesia merupakan salah satu penghasil tambang terbesar di Dunia. Pada 2019 lalu Indonesia mampu menempati posisi 3 teratas sebagai negara dengan potensi cadangan mineral tingkat global. Selain itu kontribusi produk emas sebesar 39% juga mampu membawa Indonesia pada posisi kedua secara global. Berdasarkan data tersebut, sudah terbukti bahwa Indonesia lebih kaya daripada negara maju dunia.

Kita perlu tahu bahwa kekayaan Indonesia mampu mencapai 200 ribu triliun. Kekayaan tersebut diungkapkan pada tahun 2014 oleh Pengamat Energi Kurtubi, dikutip dari laman Kementerian Keuangan RI. Coba bayangkan berapa kekayaan Indonesia saat ini, setelah 7 tahun dari perhitungan tersebut disampaikan?

Strategi Pemerintah bersama Investor Asing Berujung pada Dominasi Halus

Sumber: Sinar Ngawi

Tentu tidak salah, jika pemerintah mempercayakan investor asing untuk berkontribusi dalam perkembangan perindustrian Indonesia melalui Inject Cash (Suntik Dana). Namun, bantuan pengembangan berujung pada penguasaan asing yang berdampak pada dominasi tambang mineral sejak 2020 sampai sekarang. Ini merupakan masalah yang besar!

Lalu dimana letak mental industri negeri yang mulai punah? Berdasarkan Data Kementerian ESDM 2020, Peta Industri Nikel Nasional bergeser dengan cepat dalam waktu 4 tahun terakhir. Kembali pada tahun 2014 dimana Produksi Nikel masih dikuasai INCO (Brasil/25%), ANTM (19%) dan perusahaan lainnya (3%). Kemudian pada tahun 2018, PT Indonesia Morowali Industrial Park ( IMIP ) menguasai 50% produksi hilir nikel. Diikuti dengan INCO berkurang 22%, ANTM hanya 19% dan Virtue Dragon Tiongkok-Indonesia) mengontrol 11%. Jika kita hitung secara total maka tambang nikel Indonesia yang dikuasai oleh asng mencapai 70%. Kalau sudah begini siapa yang salah? Apa solusi yang tepat?

Negara Sudah Kehilangan Organ Pentingnya Akibat Terlalu Bergantung pada Dana Asing

Sumber: Portal Sulut - Pikiran Rakyat

Kedaulatan negara hampir atau bahkan sudah tidak bisa berhadapan dengan dana investor asing. Namun tidak sepenuhnya negara kita menjual “organ dalamnya” kepada asing. Sudah waktunya pemerintah melek terhadap kemandirian industri negara. Karena mau bagaimana lagi jika memang korporasi asing telah masuk melalui mitra dengan pengusaha domestik dan paling gencar membangun smelter.

Beralih dari opini menuju solusi, mari kita berpikir sejenak bagaimana mengatasi ketergantungan industri negeri atas suntikan dana asing? Bisa saja dengan membuat produksi mandiri hingga mengembangkan produk dalam negeri. Pemerintah sudah waktunya melek memandang karya anak bangsa, terutama dalam pengembangan mobil listrik.

 

Di Negara Sendiri Mobil Listrik Karya Anak Bangsa Pernah Ditolak, Padahal Itulah yang Dilirik Investor Asing

Sumber: Sinar Ngawi

Produksi mobil listrik oleh anak bangsa mampu menembus kancah internasional. Sudah saatnya kita mengembangkan apa yang telah menjadi bagian kecerdasan bangsa. Oleh sebab itu, dalam pengembangan mobil listrik, pemerintah harus mengandalkan kemampuan BUMN untuk menopang kebijakan ini.

IMIP, perusahaan asal Cina, telah membangun smelter feronikel pertama melalui PT Sulawesi Mining Investment di Bahodopi, Sulawesi Tengah. Smelter feronikel pertama tersebut memiliki kapasitas 300.000 ton per tahun. Lalu smelter kedua dibangun PT Indonesia Guang Ching untuk produksi 2x lipatnya per tahun. Data tersebut menunjukan ekspansi perusahaan memang masuk akal. Mengingat Cina adalah salah satu negara yang gencar dalam pengembangan mobil listrik.

Mari Kaitkan Antara Data IMIP dengan Rencana Solusinya

Sumber: MalangTIMES

Dapat disimpulkan, bahwa keberpihakan pemerintah terhadap BUMN dalam proyek strategis mobil listrik yang sedang dijalankan sangat dibutuhkan untuk mengurai ego sektoral. Misal saja saat membangun Smelter, Menteri BUMN seharusnya turun tangan dengan sistem kerja yang kolaboratif dan saling menopang. Kemudian, tugas ANTM yaitu untuk memastikan ketersediaan pasokan bijih di hulu. Tak terkecuali peran Pertamina dan PLN dengan tugas sesuai core bisnisnya masing-masing. Kolaborasi inilah yang sangat penting dalam kemajuan Indonesia dalam perkembangan Industri secara mandiri.

Dan yang paling penting dalam Pengembangan mobil listrik Indonesia adalah kebijakan. Mengingat Indonesia adalah negara penghasil nikel terbesar dengan persentase mencapai 27% dalam kontribusi global. Dengan peralihan ke mobil listrik, Indonesia yang hobi mengimpor BBM bisa terselamatkan dari jurang defisit dan mampu menciptakan energi bersih. Namun hal tersebut tetap kembali kepada kesadaran pemerintah dan kontribusi kita sebagai generasi harapan bangsa. Semoga Indonesia mampu menjadi bangsa yang mandiri dalam segala bidang tak terkecuali di bidang idustri.

Share:
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a comment